Ini hari ke7 puasa di bulan Ramadhan 1429 H, and aq mo berbagi cerita tentang kagiatan q hari ini....
Bro, puasa tuh ternyata mengajarkan kita tentang banyak hal, bukan cuma menahan hawa nafsu, lapar & dahaga, bukan cuma memperbanyak ibadah, tapi juga belajar lebih bersabar, terutamanya untuk orang yang sehari-hari suka grasah grusuh kayak aq...
Anyway.. gini ceritanya...
Buat ibu-ibu rumah tangga kayak aq tuh puasa juga berarti mempersiapkan lauk yang rada-rada spesial dibanding hari-hari biasa (dengan budget yang seperti biasa)... padahal untuk mempersiapkan hidangan yang tidak biasa tuh tentunya juga perlu dana yang tidak biasa, apalagi sudah jadi kebiasaan di negeri kita tercinta ini segala barang-barang dan bahan-bahan kebutuhan pokok tuh harganya malah jadi luar biasa. So, banyak ibu-ibu rt yang lebih suka membeli lauk siap pakai (baca:udah jadi) daripada membeli bahan mentah dan memasak sendiri, dikarenakan hitung-hitungan ekonomis, malah jatuhnya tuh lebih murah beli masakan jadi dibanding bikin sendiri, belum lagi kalo mesti masak sendiri kita juga harus repot pergi ke pasar, mencari ini itu sambil sibuk mikir kali-kalian dana yang ada di epok (dompet), selain tentu saja juga ada faktor x (baca:malas) yang membuat ibu-ibu lebih suka berduyun-duyun mengunjungi counter makanan (baca:warteg) yang meyediakan lauk pauk untuk sahur dan berbuka puasa.. Apalagi kalo kebetulan si ibu juga kerja.. Nah aq tuh kebetulan juga termasuk ke dalam golongan ibu-ibu praktis ekonomis itu.. Emang siih gak tiap hari juga beli masakan jadi, tapi kalo ditotal perbandingannya mungkin 5:2 aja (selama 7 hari puasa ini)
So hari ini, setelah menimbang dst, mengingat dst, aq memutuskan dan menetapkan kembali berburu masakan siap beli (faktor x neeh.. padahal kn ini hari libur..
Flashback dikit tentang kegiatan q kemaren, karena kemaren aq gak kebagian lauk yang aq inginkan berhubung datang belakangan, hari ini aq memutuskan untuk datang lebih awal ke warung andalan q untuk membeli lauk pesanan anak-anak q.. Padahal yang namanya bulan puasa kan warung-warung tuh bukanya siang menjelang sore aja, namun jam 11 tepat aq sudah start dari rumah menuju warung idola (yang kebetulan masakannya top abis & sesuai dengan selera). Sampai di sana, kurang-lebih jam11.15 wita. Warungnya masih tutup bo! hanya dibuka di bagian etalasenya saja yang masih kosong melompong (chiieee.. etalase ni yee) yang menandakan bahwa warungnya buka hari ini. Tapi tetap aja aq kekeuh nunggu, berdiri di depan warung tutup, (persis kayak orang nunggu pembagian amlop dan sembako gratis di depan rumah pejabat dan politikus yang pengen membeli hati rakyat biar kepilih jadi pejabat atau anggota legislatif kayak yang aq liat di tayangan berita di TV). tak sampai lima menit aq tiba, satu persatu ibu-ibu praktis & ekomomis lain pun berdatangan...
Seperti yang sudah-sudah, layaknya ada peraturan tak tertulis, kami pun bergerombol sambil mengitung dan menyusun nomor antrian hari ini.. and you know bro... hari ini aq yang dapat antrian no1!! Makin lama jumlah ibu-ibu yang bergerombol di depan warung tutup makin banyak saja.. yang membuat si empunya warung yang terkenal roamaaah (baca:jutek) makin ramah saja, terdengar dari dalam "nyayiannya" bahwa kalo ditungguin kaya gitu dese malah jadi gugup & gak karuan.. Tapi karna sudah terbiasa & masakannya yang emang top punya, kita-kita asyik-asyik aja nunggu di luar. Aq sendiri asyik jalan hilir mudik kayak setrikaan sambil melihat-lihat toko-toko disekitar warung, sambil memantau anak q yang kebetulan ikut, yang sambil suntuk tuk denagn muka ditekuk, duduk sambil main games di hp, di ponsel milik teman q yang kebetulan bersebelahan dengan warung idola.
Nomor antrian diantara kita-kita udah sampe 12 ketika akhirnya tante warung berbaik hati membukakan warungnya. Berduyun-duyun ibu-ibu praktis ekonomis masuk & mulai membidik makanan sasarannya. walaupun "prosesi" jual beli belum juga dimulai karena tante warung masih melakukan finishing touch pada masakannya (dan sebagian memang belum selesai dimasak, maklum masih jam 12 siang inii) dan menata di dalam "etalase"nya yang berupa lemari kaca. Dan tiap kali ada ibu-ibu lain datang, tanpa dikomando ada saja ibu-ibu yang nyelutuk menyebutkan daftar nomor antrian, si ini nomor ini, si itu no anu. Aq sih diam saja sambil senyum-senyum sendiri, soalnya kan aq yang hari ini dapat kehormatan dapat nomor antrian 1. Oh iya, perlu aq jelaskan bahwa disini kita boleh-boleh aja mengambil sendiri kalau ada lauk yang sudah matang yang kita inginkan, dan diletakkan dipiring-piring kosong yang sudah disediakan oleh tante warung, yang menandakan bahwa masakan itu sudah dipesan, namun bayarnya harus tetap sesuai dengan nomor antrian tak tertulis.
Dan... Saat yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba.... Jreng... Tretetet teteteeeeet... No antrian 1 dipersilakan untuk membeli masakan...
Dengan semangat aq maju ke depan.. Tapi ada kasak-kusuk dibelakangku... What's up buddy? Ternyata yang namanya manusia memang ada saja ulahnya, ada diantara ibu-ibu yang slonong boy, main ambil aja masakan yang sebelumnya sudah dipesan dan dipilih oleh ibu lainnya ... Untungnya si ibu orang yang baik hati, jadi pasrah dan berkata bahwa kalau emang rejeki nanti juga kebagian. So, it's ok aja jadinya.
Kembali ke aq, aq mulai menyebutkan masakan yang q inginkan, dan menyerahkan masakan lain yang sudah q pilih sebelumnya. Hari ini aq memutuskan membeli lalapan dan gangan humbut basantan (sayur berkuah santan) serta akan tenggiri asam manis untuk berbuka, dan sate ati ampela dan oseng sayur udang untuk sahurnya. Sayangnya ikan gabus goreng pesanan anak q belum selesai digoreng. Tapi karena dirumah aq masih punya pepes (lagi-lagi) ikan tengiri, aq memutuskan membeli ikan goreng besok-besok saja.
Akhirnya.. Setelah hampir 2 jam lamanya (mungkin sama lamanya kalau aq masak sendiri di rumah)... Segala "psosesi" antri ikan selesai juga aq jalani...
Dan ketika melihat betapa lahapnya keluarga q makan saat berbuka tadi, segala rasa capek dan bete yang q jalani tadi siang rasanya terbayar sudah... Alhamdulillah...
Dan karena lauk untuk sahur pun sudah tersedia dan aq tinggal memanaskannya saja ketika sahur nanti, aq jadi punya waktu untuk menulis ini, dan berbagi pengalaman dengan kalian...
Terimakasih ya Allah, atas rejeki yang Kau berikan pada kami. Terima kasih juga tante warung, karena sudah memasak untuk kami....
Sekarang, aq mo bobo dulu, biar bisa bangun dan bersiap sahur nanti...
CU all......
Flashback dikit tentang kegiatan q kemaren, karena kemaren aq gak kebagian lauk yang aq inginkan berhubung datang belakangan, hari ini aq memutuskan untuk datang lebih awal ke warung andalan q untuk membeli lauk pesanan anak-anak q.. Padahal yang namanya bulan puasa kan warung-warung tuh bukanya siang menjelang sore aja, namun jam 11 tepat aq sudah start dari rumah menuju warung idola (yang kebetulan masakannya top abis & sesuai dengan selera). Sampai di sana, kurang-lebih jam11.15 wita. Warungnya masih tutup bo! hanya dibuka di bagian etalasenya saja yang masih kosong melompong (chiieee.. etalase ni yee) yang menandakan bahwa warungnya buka hari ini. Tapi tetap aja aq kekeuh nunggu, berdiri di depan warung tutup, (persis kayak orang nunggu pembagian amlop dan sembako gratis di depan rumah pejabat dan politikus yang pengen membeli hati rakyat biar kepilih jadi pejabat atau anggota legislatif kayak yang aq liat di tayangan berita di TV). tak sampai lima menit aq tiba, satu persatu ibu-ibu praktis & ekomomis lain pun berdatangan...
Seperti yang sudah-sudah, layaknya ada peraturan tak tertulis, kami pun bergerombol sambil mengitung dan menyusun nomor antrian hari ini.. and you know bro... hari ini aq yang dapat antrian no1!! Makin lama jumlah ibu-ibu yang bergerombol di depan warung tutup makin banyak saja.. yang membuat si empunya warung yang terkenal roamaaah (baca:jutek) makin ramah saja, terdengar dari dalam "nyayiannya" bahwa kalo ditungguin kaya gitu dese malah jadi gugup & gak karuan.. Tapi karna sudah terbiasa & masakannya yang emang top punya, kita-kita asyik-asyik aja nunggu di luar. Aq sendiri asyik jalan hilir mudik kayak setrikaan sambil melihat-lihat toko-toko disekitar warung, sambil memantau anak q yang kebetulan ikut, yang sambil suntuk tuk denagn muka ditekuk, duduk sambil main games di hp, di ponsel milik teman q yang kebetulan bersebelahan dengan warung idola.
Nomor antrian diantara kita-kita udah sampe 12 ketika akhirnya tante warung berbaik hati membukakan warungnya. Berduyun-duyun ibu-ibu praktis ekonomis masuk & mulai membidik makanan sasarannya. walaupun "prosesi" jual beli belum juga dimulai karena tante warung masih melakukan finishing touch pada masakannya (dan sebagian memang belum selesai dimasak, maklum masih jam 12 siang inii) dan menata di dalam "etalase"nya yang berupa lemari kaca. Dan tiap kali ada ibu-ibu lain datang, tanpa dikomando ada saja ibu-ibu yang nyelutuk menyebutkan daftar nomor antrian, si ini nomor ini, si itu no anu. Aq sih diam saja sambil senyum-senyum sendiri, soalnya kan aq yang hari ini dapat kehormatan dapat nomor antrian 1. Oh iya, perlu aq jelaskan bahwa disini kita boleh-boleh aja mengambil sendiri kalau ada lauk yang sudah matang yang kita inginkan, dan diletakkan dipiring-piring kosong yang sudah disediakan oleh tante warung, yang menandakan bahwa masakan itu sudah dipesan, namun bayarnya harus tetap sesuai dengan nomor antrian tak tertulis.
Dan... Saat yang dinanti-nantikan pun akhirnya tiba.... Jreng... Tretetet teteteeeeet... No antrian 1 dipersilakan untuk membeli masakan...
Dengan semangat aq maju ke depan.. Tapi ada kasak-kusuk dibelakangku... What's up buddy? Ternyata yang namanya manusia memang ada saja ulahnya, ada diantara ibu-ibu yang slonong boy, main ambil aja masakan yang sebelumnya sudah dipesan dan dipilih oleh ibu lainnya ... Untungnya si ibu orang yang baik hati, jadi pasrah dan berkata bahwa kalau emang rejeki nanti juga kebagian. So, it's ok aja jadinya.
Kembali ke aq, aq mulai menyebutkan masakan yang q inginkan, dan menyerahkan masakan lain yang sudah q pilih sebelumnya. Hari ini aq memutuskan membeli lalapan dan gangan humbut basantan (sayur berkuah santan) serta akan tenggiri asam manis untuk berbuka, dan sate ati ampela dan oseng sayur udang untuk sahurnya. Sayangnya ikan gabus goreng pesanan anak q belum selesai digoreng. Tapi karena dirumah aq masih punya pepes (lagi-lagi) ikan tengiri, aq memutuskan membeli ikan goreng besok-besok saja.
Akhirnya.. Setelah hampir 2 jam lamanya (mungkin sama lamanya kalau aq masak sendiri di rumah)... Segala "psosesi" antri ikan selesai juga aq jalani...
Dan ketika melihat betapa lahapnya keluarga q makan saat berbuka tadi, segala rasa capek dan bete yang q jalani tadi siang rasanya terbayar sudah... Alhamdulillah...
Dan karena lauk untuk sahur pun sudah tersedia dan aq tinggal memanaskannya saja ketika sahur nanti, aq jadi punya waktu untuk menulis ini, dan berbagi pengalaman dengan kalian...
Terimakasih ya Allah, atas rejeki yang Kau berikan pada kami. Terima kasih juga tante warung, karena sudah memasak untuk kami....
Sekarang, aq mo bobo dulu, biar bisa bangun dan bersiap sahur nanti...
CU all......
Label: Simplicity Me
2 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


jadi pengen ke Barabai.....
keep on blogging yach...=)
thanks atas komen nya yach.. btw, kalo mo gangan basantan, kamu juga bisa ganti hunbutnya sama rebung kalengan koq.. bikinnya juga simpel banget tinggal dicemplungin aza semua, kalo repot minta tolong sama bibik aza.. ntar aq resepin deh buat kamu, tapi aq tanya emak dulu yach.. hehehe